Temanku, drummer hantu
Cahaya matahari perlahan mencoba menerobos masuk kedalam kamarku. Suara kicau burung dan gemericik air di kolam ikanku pun berusaha keras membangunkan tidurku. Dan menurutku mereka berhasil karena sekarang perlahan aku membuka mata dan pandanganku menjelajah keseluruh sudut kamarku. Ternyata cukup berantakan juga. Ada remote tivi, boneka keponakanku, tas kecil kesayanganku, hape, dan stik drumku. Stik drum....stik drum......gawat...!!!Aku baru ingat ternyata pagi ini aku ada latihan sama bandku. Entah jam berapa semalam aku tertidur, yang pasti sekarang aku harus segera ke studio.
Bergegas aku menuju kamar mandi untuk sekedar cuci muka pikirku. Ibuku yang melihat betapa kacaunya wajahku pagi ini hanya bisa menggelengkan kepala.
" Nasi gorengnya di meja!' seru ibuku. aku hanya mengiyakan saja. Sehabis mandi dan berpakaian segera aku menuju nasi goreng buatan ibuku dan menghabiskannya. Setelah piringku ludes langsung kusambar jaket hitam kesayanganku dan segera berpamitan untuk berangkat latihan...
Ya....latihan yang akan merubah hidupku selamanya.....selamanya.......
***
Entah ada apa hari ini, namun semua seperti terasa aneh buatku. Waktu seakan berjalan lambat dari biasanya. Kepalaku pun agak sedikit terasa pusing. Satu hal yang aku ingat, selepas manggung semalam, Nanda mengajakku untuk pergi menghabiskan malam dengan sebotol minumal alkohol yang sudah sangat kukenal bau dan rasanya. Sepertinya, tadi malam aku mabuk berat sampai pusing kepalaku masih terasa sampai saat ini.
Ohya, namaku Brian. Lengkapnya, ayahku memberi nama seorang bayi yang lahir 23 tahun silam ini Brian Trihandika. Aku adalah anak terakhir dari 3 bersaudara. Dengan status sebagai bungsu, tentu seperti kebanyakan anak bungsu lainnya, aku menjadi anak yang paling disayang dan dimanja dalam keluarga.
***
Kuparkir sepeda motor sport Yamaha R15 yang setia menemaniku saat latihan dan manggung ini. Bagiku menyusuri jalan dengan sepeda motor adalah hal yang sangat menyenangkan dibandingkan harus bermacet-macetan di dalam mobil. Segera aku melompat dari sepeda motor itu dan menghambur menuju pintu studio 3, tempat aku dan bandku biasa latihan. Agus, si penjaga studio langsung berteriak dengan teriakan yang sudah aku hapal.
"Beee!!!! Sepatu dicopot!!!!" teriak Agus seperti singa yang belum makan selama seminggu.
Aku cuma nyengir dan melemparkan sepatuku sekenanya di rak yang ada di pojok pintu studio. "Biarin deh si Agus yang ngerapiin," batinku.
Di dalam studio sudah ada 4 orang pemuda yang semuanya serempak menoleh ke arahku dengan tatapan liar seperti kawanan serigala yang siap mencabik-cabik mangsa.
"Jam berapa ini?" Andri melontarkan serangan pertamanya kepadaku. Aku tahu setelah ini 3 serigala lainnya akan ikut menyerangku. Sebelum mereka membuka suara, segera kupotong saja. "Sorry, semalam Nanda ngajakin minum. Salahin aja dia." Selorohku sambil menunjuk Nanda.
"Makanya kalo gak biasa mabuk, gak usah sok jago. Baru seteguk aja udah tepar!" Nanda berusaha membela diri.





No comments:
Yang mau komentar harus serius ya, ga boleh main-main