Kisah Si Anak SD

March 11, 2011
Seseorang tidak berhak untuk mengatakan bahwa ia bernasib malang selama dia punya 2 tangan, 2 kaki, 2 mata, 2 telinga, dan lain2nya. Namun itulah ego manusia, semoga Allah memaafkannya.

Kisah ini berawal dari hidup seorang bocah yg saat itu masih duduk di sekolah dasar ( SD ). Bocah itu adalah seorang anak yg biasa2 saja, hidup layaknya anak seusia dia. Dia bermain, tertawa, menangis, sedih, gembira, tidak ada yang aneh dengan kehidupannya.

Namun 1 hal yang pasti, bocah ini begitu optimis dengan hidupnya, meskipun dia sering kali merasa sangat sedih diwaktu-waktu "tertentu". Kenapa tertentu? Ya sebab, di waktu tertentu itu dia harus merasakan hal-hal tidak menyenangkan yang dikemudian hari hal itu ternyata membekas padanya.

Salah satu hal yang mungkin bocah itu ingat adalah hari dimana pembagian rapor yang mungkin saat2 membahagiakan buat dia. Kenapa? karena bocah itu meskipun bukan anak yang pintar namun dia selalu mendapat nilai bagus. Sejak kelas 1 SD rangking kelasnya tidak pernah beranjak dari 10 besar. Bahkan kelas 3 SD dia berhasil masuk 3 besar.

Pagi itu, sang guru telah siap duduk di dalam kelas dengan membawa setumpuk rapor dan beberapa buah kado, hadiah wajib buat si juara 1 - 3.
Beberapa orang tua siswa juga datang untuk mengambil rapor anak mereka. Didalam kelas, beberapa siswa terlihat beragam, dari yang senang, was-was, sampai khawatir karena mereka belum tau akan seperti apa rapor mereka.

Satu demi satu rapor dibagikan. Tibalah giliran si bocah untuk menerima rapornya. Seperti biasa, si bocah selalu yakin nilainya akan bagus, dan memang angka yang tertera di rapornya membuat dia tersenyum. “ Peringkat IV dari 32 Siswa”. Sudah terbayang wajah dan senyum bahagia orang tuanya dirumah. Mungkin peringkat 4 itu biasa karena si bocah sulit lagi menembus 3 besar, namun dia terus berusaha untuk tidak sekalipun beranjak dari posisi 4 itu. Tibalah saat dia pulang sekolah. Dengan wajah berbinar dia berlari pulang kerumah. Sambil menenteng rapornya untuk diperlihatkan ke kedua orang tuanya bahwa usaha dia tidak sia-sia.

Anak kecil tetaplah anak kecil, bermain adalah bagian dari hidupnya. Keasyikan bermain dan karena senangnya, rapor yang tergenggam kuat di tangannya terlepas dan terjatuh. Buku bersejarah itu jatuh dan terkena percikan lumpur. Segera si bocah mengambilnya dan memeriksa. Untunglah hanya basah sedikit dan tidak terlalu parah kerusakannya. Si bocah pun tanpa firasat apa-apa segera bergegas pulang. Sesampai dirumah hanya sang ibu yang ada karena si ayah sedang bekerja. Dengan mata berbinar si bocah berkata bahwa dia berhasil mempertahankan nilainya sambil berkata bahwa suatu saat dia akan lebih baik dari ini. Tak lama si ayah datang dan si bocah menunjukan rapor kepada ayahnya. Namun si ayah melihat bahwa rapor itu kotor karena terkena air dan lumpur akibat jatuh tadi. Si ayah pun marah kepada si bocah karena si bocah telah teledor. Sang ayah berkata bahwa dia kecewa, sangat kecewa....ya kecewa katanya. Bahkan nilai si bocah, kerja keras si bocah pun bisa kalah oleh amarah sang ayah yang membuat si bocah hanya bisa tertunduk. Lenyap sudah impian si bocah yang berharap sang ayah senang. Yang dia dapatkan justru kata kecewa sang ayah.

Kata-kata sang ayah itu bagaikan duri yang ditancapkan dihatinya. Sakitnya sampai membuat sang bocah berusaha kuat menahan air matanya. Apakah noda di buku rapor itu begitu besar dan fatal sehingga sang ayah begitu marah? Entahlah....yang jelas si bocah merasa sedih dan seketika kehilangan semangatnya. Dia merasa apa yang dia kerjakan sia-sia. Beruntung ibunya masih memberikan semangat untuknya dan membelanya. Dan memang pada akhirnya buku rapor itu bisa dibersihkan dan hanya meninggalkan noda kotor yang mungkin tidak sebanding dengan amarah sang ayah.
Bertahun berlalu sejak kejadian itu. Namun si bocah tidak berubah sedikit pun, dia tetap menghormati sang ayah, dia tetap berusaha keras membuat kedua orang tuanya tersenyum, dia tetap mengejar impiannya untuk bisa menjadi juara pertama di sekolahnya. Dan memang hal itu dia buktikan. Bocah itu lulus dari sekolahnya dengan predikat peraih NEM tertinggi di sekolahnya, mengalahkan ketiga teman yang selalu juara kelas yang tidak pernah bisa dia kalahkan.

Kejadian buku rapor jatuh itu masih tetap dia ingat dan akan selalu dia ingat selamanya karena di hatinya kini telah tertancap sebuah duri yang meskipun dicabut tetap akan menimbulkan bekas.
Bahkan duri itu sepertinya tidak tercabut. Entah duri itu tanggal dengan sendirinya atau apa, yang jelas luka yang ditimbulkan tidak akan pernah hilang. Namun sekali lagi sang bocah tetap tersenyum. Dia selalu menegakkan kepalanya dan tersenyum didepan kedua orang tuanya, didepan sang ayah yang mungkin lupa telah menancapkan duri itu.

Manusia tetaplah manusia yang punya batasan. Terkadang si bocah berpaling hanya untuk mengusap air mata yang jatuh saat dia mengingat hal itu. Hingga saat ini mungkin sang bocah masih memegang kapas putih untuk sekedar mengelap luka di hatinya yang mungkin tidak akan bisa sembuh seperti sedia kala lagi.

Apa yang bisa kita dapat adalah, betapa kata-kata akan bisa membawa dampak besar buat seseorang jika kita salah dalam mengeluarkannya. Namun sekali lagi, si bocah tidak pernah berubah, ya tidak pernah berubah, dia tetap si bocah yang dulu. ^^

No comments:

Yang mau komentar harus serius ya, ga boleh main-main

Theme images by nicodemos. Powered by Blogger.